Sektor maritim Indonesia selama ini dikenal konservatif. Regulasi yang ketat, investasi besar, dan budaya kerja yang mengutamakan pengalaman sering membuat inovasi sulit masuk. Namun, dalam lima tahun terakhir, gelombang baru startup digital mulai mengubah lanskap ini. Mereka tidak hanya mendigitalisasi proses yang sudah ada, tetapi juga menciptakan model bisnis yang sepenuhnya baru.
Salah satu yang paling menarik adalah MULAS, sebuah platform digital agregasi muatan kapal antarpulau berbasis IoT yang dikembangkan oleh mahasiswa Telkom University Purwokerto. MULAS dirancang untuk mengoptimalkan ruang muatan kapal yang belum terpakai. Dengan memanfaatkan teknologi IoT, platform ini mempertemukan pemilik barang dengan penyedia transportasi laut sehingga muatan dapat dikonsolidasikan secara lebih efisien. Gagasan ini hadir untuk menjawab salah satu persoalan utama dalam sistem logistik maritim Indonesia: tingginya biaya distribusi.
Pelindo tidak hanya membangun platform seperti ADHARA, tetapi juga aktif membina startup dan UMKM melalui berbagai program. Maritimepreneur Pelindo 2026 adalah program tahunan yang ditujukan untuk menjaring dan membina pelaku UMK potensial agar bisa naik level, baik dari sisi kapasitas bisnis maupun kehadiran digital. Pendaftaran program ini dibuka pada 25 Juni hingga 20 Juli 2026, dengan rangkaian pembinaan intensif dan peluang menjadi UMK Binaan Pelindo. Selain itu, Pelindo Excube adalah inkubator eksternal yang fokus pada penerapan AI untuk meningkatkan operasi pelabuhan, logistik, dan keberlanjutan. Program ini membuka pintu bagi startup seperti HAKOVO yang mengajukan solusi AI Customs Clearance Automation. Dengan pendekatan ini, Pelindo tidak hanya menjadi operator pelabuhan, tetapi juga menjadi katalis bagi ekosistem inovasi yang lebih luas.
Minat investor terhadap startup logistik maritim Indonesia terus tumbuh. Waresix, misalnya, telah mengumpulkan sekitar US$197 juta sejak berdiri, dengan putaran terbaru senilai US$27,4 juta pada Agustus 2026. Sementara itu, Blitz Electric Mobility, penyedia jasa logistik berbasis kendaraan listrik, menyelesaikan investasi pra-Seri A yang dipimpin Vynn Capital. Ini menunjukkan bahwa investor melihat potensi besar dalam digitalisasi logistik Indonesia.
Namun, tantangan tetap ada. Penelitian dari Garuda Kemdiktisaintek mencatat bahwa investasi awal yang diperlukan untuk teknologi tidak murah, infrastruktur digital masih terbatas, dan resistensi terhadap perubahan masih kuat di beberapa wilayah. Startup yang ingin berhasil di sektor ini tidak hanya perlu teknologi yang baik, tetapi juga kemampuan navigasi regulasi dan hubungan dengan pemain besar.
Yang membedakan ekosistem startup maritim Indonesia dari yang lain adalah tingkat kolaborasi yang tinggi. WGSHub, misalnya, bermitra dengan AKSI untuk mengimplementasikan sistem end-to-end untuk operasional dan pembayaran di Pelabuhan Terminal Batu Ampar, Batam. Sementara itu, Samudera Indonesia berkolaborasi dengan Foundry untuk mendukung pertumbuhan startup di sektor industri maritim dan logistik. Kolaborasi semacam ini penting karena tidak ada satu startup pun yang bisa menyelesaikan semua masalah sendirian. Digitalisasi pelabuhan dan logistik maritim membutuhkan integrasi antara pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, startup, dan institusi pendidikan. Inisiatif seperti INBLUE Blue Economy Accelerator Program yang melibatkan 27 startup internasional dan lokal adalah contoh bagaimana ekosistem bisa dibangun secara inklusif.
Dengan biaya logistik yang masih sekitar 23% dari PDB, Indonesia memiliki ruang yang sangat besar untuk perbaikan. Startup digital untuk industri pelabuhan dan logistik bukan sekadar tren; mereka adalah bagian dari solusi struktural yang dibutuhkan negara ini. Dari ADHARA yang menghubungkan sistem yang terpisah, hingga MULAS yang mengoptimalkan muatan kapal, hingga Cargovision yang mempercepat inspeksi kontainer, setiap inovasi membawa Indonesia selangkah lebih dekat ke sistem logistik yang efisien, transparan, dan berkeadilan. Tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan adopsi. Selama ekosistem maritim Indonesia masih terfragmentasi dan resisten terhadap perubahan, inovasi apa pun akan sulit berkembang. Namun, dengan momentum digitalisasi yang semakin kuat dan dukungan dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara kepulauan lain dalam membangun logistik maritim yang modern dan inklusif.
Informasi tentang program Maritimepreneur Pelindo tersedia di situs resmi Pelindo, sementara data pendanaan startup dapat diakses melalui DealStreetAsia dan Crunchbase.
