AI Ubah Nasib UMKM Makassar 2026: Dari Gang Sempit ke Cabang Baru Berkat Prediksi Permintaan

AI Ubah Nasib UMKM Makassar 2026: Dari Gang Sempit ke Cabang Baru Berkat Prediksi Permintaan

Roda ekonomi Kota Makassar ditopang oleh pelaku usaha yang berjualan di gang-gang sempit, pasar kecil, dan kios rumahan. Sebagian besar dikelola oleh perempuan. Seiring perkembangan teknologi, mereka mulai beradaptasi dengan kehadiran kecerdasan buatan sebagai jembatan untuk naik kelas.

Kisah Dewi Sulastri

Dewi Sulastri menjalankan usaha keluarga turun-temurun: berjualan jalangkote dan bikang doang. Setiap hari ia memproduksi 800 hingga 1.000 biji jalangkote, ditambah 200 biji bikang doang yang dijual Rp3.000 per biji. Omzet hariannya mencapai Rp2–3 juta dengan bantuan tujuh karyawan.

Yang luar biasa, Dewi berhasil membuka cabang penjualan di Jalan Rappocini—sebuah lompatan dari rumah produksi di gang sempit kawasan Jalan Kandea.

Peran AI dalam Pertumbuhan Usaha

Keberhasilan Dewi tidak lepas dari penggunaan aplikasi digital yang dilengkapi AI setelah mendapatkan pembinaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar.

Dengan WhatsApp Business AI Assistant, Dewi dapat memprediksi permintaan (AI Forecasting), mengelola pesanan otomatis, memberikan rekomendasi paket menu, dan menjalankan customer service otomatis via chatbot.

Fitur AI auto reply dan order form otomatis membuat pemesanan lebih cepat dan teratur. AI bahkan mengelompokkan pesanan berdasarkan jam pengantaran dan lokasi, memudahkan Dewi mengatur rute pengiriman.

Ekosistem Pendukung

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Makassar, Evi Aprialti, menyatakan bahwa setidaknya 3.000 UMKM telah diberikan pelatihan transformasi digital.

Berdasarkan data BPS, terdapat sekitar 5.387 unit UMKM di Kota Makassar, dan sekitar 65 persen di antaranya sudah menggunakan teknologi digital.

Ini menunjukkan bahwa adopsi AI tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia didorong oleh ekosistem yang mencakup pemerintah daerah, operator telekomunikasi, dan platform digital.

Pelajaran dari Makassar

Kisah Dewi membuktikan bahwa AI bukan teknologi eksklusif untuk perusahaan besar. Dengan alat yang tepat dan pendampingan yang memadai, pedagang jalangkote di gang sempit pun dapat merasakan manfaatnya.

Pertanyaannya kini: berapa banyak Dewi Sulastri lain di seluruh Indonesia yang siap melompat ke era AI—dan apakah ekosistem pendukungnya sudah siap menyambut mereka?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *