Aset yang Tidur Harus Dibangunkan
BUMN Indonesia mengelola kekayaan yang luar biasa besar: tanah, kawasan industri, pelabuhan, pembangkit listrik, perkebunan, tambang, dan properti. Namun, tidak semua aset tersebut bekerja secara optimal. Sebagian hanya tercatat berdasarkan nilai buku tanpa memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Danantara menyadari bahwa aset yang tidur harus dibangunkan, aset produktif harus diperbesar, aset yang tumpang tindih harus dikonsolidasikan, dan aset yang tidak lagi strategis harus dievaluasi. Dalam kerangka ini, optimalisasi aset bukan sekadar menjual atau menyewakan, melainkan mengubah cara pandang terhadap kekayaan negara: dari pasif menjadi aktif, dari beban menjadi sumber nilai.
Tiga Langkah Strategis yang Dirancang
Pada Oktober 2026, BP BUMN bersama Danantara menyiapkan tiga langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas aset, memperkuat model bisnis, dan menciptakan nilai tambah dengan mengacu pada praktik pengelolaan aset kelas dunia. Langkah pertama adalah optimalisasi dan monetisasi aset BUMN: aset-aset strategis diarahkan agar dikelola lebih produktif demi mempercepat pemanfaatan serta komersialisasi guna menghasilkan pendapatan dan imbal hasil yang optimal. Langkah kedua berfokus pada penataan model bisnis BUMN beserta anak dan cucu perusahaan agar lebih efisien, terintegrasi, dan berorientasi pada bisnis inti. Langkah ketiga adalah percepatan penciptaan nilai tambah melalui penguatan kinerja operasional, integrasi rantai pasok, dan pemanfaatan teknologi.
Dari Kawasan Industri hingga Kota Masa Depan
Implementasi strategi optimalisasi aset mulai terlihat pada berbagai proyek konkret. Penggabungan 23 perusahaan industrial estate menjadi satu entitas dengan tanah kelolaan 35 ribu hektare merupakan contoh bagaimana aset yang sebelumnya tersebar kini dikelola sebagai satu kekuatan. Selain itu, BP BUMN dan Danantara tengah mengembangkan 12 Kota Masa Depan Indonesia dengan konsep yang mengintegrasikan kawasan hunian, industri, dan pusat pertumbuhan baru. Pengembangan kota-kota masa depan ini menunjukkan bahwa aset BUMN tidak hanya dimonetisasi untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek, tetapi juga diposisikan sebagai instrumen pembangunan wilayah yang berkelanjutan.
Monetisasi Tanpa Menjual Mahal Kekayaan Negara
Salah satu kekhawatiran dalam monetisasi aset adalah risiko menjual kekayaan negara di bawah harga pasar. Danantara menempatkan manajemen risiko sebagai bagian integral dari setiap keputusan investasi dan monetisasi. Laporan Antara pada Mei 2026 menegaskan bahwa optimalisasi portofolio dilakukan melalui pendekatan investasi yang terukur, inovatif, dan berbasis manajemen risiko untuk mendorong peningkatan imbal hasil serta memperkuat kontribusi BUMN terhadap pendapatan negara. Dengan demikian, monetisasi bukan berarti melepas aset strategis secara sembarangan, melainkan memilih instrumen yang tepat—apakah melalui kerja sama usaha, pemanfaatan bersama, atau skema lain yang tetap menjaga kepemilikan negara.
Nilai Tambah sebagai Ukuran Akhir
Ukuran keberhasilan optimalisasi aset bukanlah seberapa banyak aset yang dijual atau disewakan, melainkan seberapa besar nilai tambah yang tercipta. Tiga strategi Danantara pada dasarnya bermuara pada satu tujuan: memastikan setiap aset negara bekerja secara optimal untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi negara dan masyarakat. Dengan kata lain, aset BUMN tidak boleh berhenti sebagai catatan neraca, tetapi harus menjadi mesin pertumbuhan yang menghasilkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat fundamental ekonomi nasional. Laporan Metro TV pada Oktober 2026 menegaskan bahwa upaya tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi sekaligus mendongkrak daya saing dan kontribusi ekonomi BUMN.
