Setelah mengalami fase koreksi panjang akibat suku bunga tinggi dan lesunya daya beli, sektor properti dan infrastruktur mulai menunjukan sinyal kebangkitan yang signifikan di awal tahun 2026. Megaproyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memasuki fase pembangunan intensif serta kebijakan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk perumahan menjadi dua mesin pendorong utama. Analisis saham di sektor ini menuntut pemahaman akan siklus bisnis dan eksposur geografis emiten.
Saham Semen dan Material Bangunan sebagai First Mover
Sebelum gedung berdiri, material bangunanlah yang dibutuhkan. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebagai pemimpin pasar domestik menjadi barometer utama. Tingginya volume produksi untuk pasokan IKN dan proyek infrastruktur pendukung di Kalimantan Timur telah mengurangi kelebihan pasokan (oversupply) yang selama ini menekan harga jual semen. Data dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan konsumsi semen nasional naik signifikan pada kuartal empat 2025, didorong oleh pengecoran besar-besaran di IKN.
Selain SMGR, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga menawarkan eksposur yang solid, khususnya di wilayah Jawa dan proyek-proyek swasta. Namun, tantangan terbesar adalah biaya energi (batubara). Untungnya, harga batubara global yang cenderung stabil di 2026 membantu menjaga margin laba kotor emiten semen tetap sehat. Investor disarankan mencermati rasio utilitas pabrik; peningkatan di atas 70% biasanya berkorelasi positif dengan kenaikan harga saham.
Geliat Emiten Properti di Tengah Turunnya Suku Bunga
Sektor properti adalah sektor yang paling sensitif terhadap arah suku bunga. Proyeksi penurunan BI Rate pada paruh kedua 2026 akan menurunkan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini menjadi katalis sempurna bagi PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Kedua emiten ini memiliki land bank yang sangat luas, termasuk di area penyangga IKN.
CTRA unggul dalam pengembangan kota mandiri (township) yang memberikan pendapatan berulang (recurring income) dari mall dan hotel. Sementara itu, SMRA memiliki reputasi kuat dalam manajemen proyek yang tepat waktu. Menariknya, banyak investor mulai melirik saham properti di 2026 karena valuasinya secara historis berada di bawah nilai buku (PBV < 1) akibat krisis yang terjadi sejak pandemi. Ini adalah peluang rebound yang jarang terjadi.
Strategi Investasi 2026
Meskipun menjanjikan, sektor ini memiliki risiko eksekusi. Investor harus memilih emiten yang memiliki neraca keuangan kuat (Debt to Equity Ratio rendah) untuk bertahan jika terjadi penundaan proyek. Saham seperti SMGR dan CTRA dianggap paling siap menghadapi dinamika tersebut. Momentum IKN belum berakhir; justru di 2026 pembangunan fisiknya akan paling terlihat, memberikan sentimen positif berkala setiap kali pemerintah merilis progres terbaru.
