Persaingan Ketat di Antara Bank Jumbo
Persaingan bank-bank besar Indonesia semakin ketat pada 2026. Empat bank jumbo—BRI, Bank Mandiri, BCA, dan BNI—menunjukkan performa yang impresif dengan strategi masing-masing. Berdasarkan data konsolidasian, Mandiri memimpin dari sisi nominal aset dan kredit, sedangkan BRI mencatatkan laba bersih terbesar. BNI membukukan pertumbuhan aset dan kredit paling tinggi.
Perbandingan kinerja ini memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap perbankan nasional. Setiap bank memiliki keunggulan yang berbeda, menciptakan dinamika persaingan yang sehat dan mendorong inovasi berkelanjutan.
Mandiri: Dominasi Aset dan Kredit
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan total aset sebesar Rp2.527,57 triliun hingga akhir Juni 2026, meningkat 18,09 persen dibandingkan Rp2.140,40 triliun pada Juni 2025. Capaian ini menempatkan Mandiri sebagai bank dengan aset terbesar di antara emiten perbankan yang dibandingkan.
Dari sisi penyaluran kredit, Mandiri mencatatkan Rp1.677,45 triliun hingga Juni 2026, meningkat 18,83 persen. Pertumbuhan laba bersih bank ini mencapai 24,36 persen, tertinggi di antara bank jumbo, dengan laba bersih Rp30,41 triliun. Kualitas aset yang solid tercermin dari NPL terendah, yaitu 1,01 persen.
Hingga Agustus 2026, laba bank only Mandiri mencapai Rp37,48 triliun, tumbuh 22,30 persen. DPK yang dihimpun mencapai Rp1.687,22 triliun, terdiri dari giro Rp623,09 triliun, tabungan Rp562,69 triliun, dan deposito Rp501,44 triliun.
BRI: Raja Laba dengan Fundamental Kokoh
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memimpin dari sisi nominal laba. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp30,87 triliun sepanjang Januari-Juni 2026, meningkat 17,46 persen. Hingga triwulan II 2026, laba bersih BRI tercatat Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen.
Pertumbuhan kredit BRI mencapai 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun, ditopang DPK yang mencapai Rp1.581 triliun. Rasio CASA BRI meningkat menjadi 67,6 persen, berdampak pada penurunan biaya dana dari 3,0 persen menjadi 2,4 persen. ROE BRI juga meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.
BCA: Efisiensi Dana Murah dan Kredit Produktif
BCA menunjukkan keunggulan pada struktur pendanaan dengan rasio CASA mencapai 85,20 persen, tertinggi di antara bank yang dibandingkan. Hingga Agustus 2026, laba bank only BCA menembus Rp40,17 triliun, tertinggi secara nominal di antara bank jumbo.
Penyaluran kredit BCA untuk pertama kalinya menembus level Rp1.000 triliun, mencapai Rp1.036 triliun pada semester I-2026, tumbuh 8 persen. Kredit produktif mencapai Rp802 triliun, tumbuh 11 persen, mencakup pembiayaan korporasi Rp513,4 triliun dan kredit komersial/UKM Rp288,5 triliun. Kredit hijau BCA tumbuh 19 persen menjadi Rp123 triliun.
BNI: Pertumbuhan Agresif dan Transformasi Digital
BNI mencatat pertumbuhan aset tertinggi di antara bank jumbo, mencapai 21,58 persen menjadi Rp1.461,00 triliun. Penyaluran kredit BNI hingga Agustus 2026 mencapai Rp977,17 triliun, tumbuh 27,1 persen secara tahunan. DPK BNI mencapai Rp1.124,71 triliun, tumbuh 29,4 persen, ditopang deposito yang melesat 63,7 persen menjadi Rp389,94 triliun.
Laba bersih bank only BNI hingga Agustus 2026 mencapai Rp14,33 triliun, tumbuh 6,9 persen. NII BNI mencapai Rp28,88 triliun, dengan pendapatan bunga Rp51,56 triliun. Transformasi digital menjadi motor pertumbuhan, dengan BNI mengoperasikan 13.386 ATM dan lebih dari 229.000 agen branchless banking.
BTN dan BSI: Pemain Penting di Segmen Khusus
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat kinerja impresif dengan laba bersih konsolidasi Rp2,51 triliun hingga Juli 2026, tumbuh 40 persen. Pada semester I-2026, laba BTN mencapai Rp2,40 triliun, melonjak 40,8 persen. BTN meraih penghargaan “Top Company in Banking Transformation 2026” atas keberhasilan transformasi digital dan manajemen risiko.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga menunjukkan kinerja positif. Hingga Juni 2026, BSI membukukan laba bersih Rp4,16 triliun, meningkat 11 persen. Per Mei 2026, laba BSI mencapai Rp3,39 triliun, tumbuh 16,73 persen secara tahunan. BSI terus memimpin pertumbuhan laba di segmen bank syariah.
Dinamika Industri dan Outlook ke Depan
OJK optimistis kinerja perbankan tetap solid pada 2026, ditopang pertumbuhan kredit, DPK, kualitas aset, dan permodalan yang kuat. Rasio CAR industri yang mencapai 26 persen memberikan ruang ekspansi kredit yang signifikan.
Persaingan bank jumbo akan semakin fokus pada efisiensi, kualitas aset, dan inovasi digital. Dengan fundamental yang kuat dan proyeksi pertumbuhan kredit 10-12 persen, bank-bank besar Indonesia siap mencatatkan kinerja positif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
