Praktik QRIS Cross-Border di Enam Negara: Cerita Turis dan Pelaku Usaha di Lapangan

Praktik QRIS Cross-Border di Enam Negara: Cerita Turis dan Pelaku Usaha di Lapangan

Di sebuah kafe di Jakarta, seorang turis Malaysia memindai QRIS di meja dan membayar kopi menggunakan aplikasi mobile banking dari negaranya. Di saat yang sama, seorang wisatawan Indonesia di Kuala Lumpur memindai kode QR di toko oleh-oleh dengan aplikasi yang biasa digunakan di rumah. Dua adegan berbeda negara itu kini menjadi rutinitas baru berkat konektivitas QRIS antarnegara yang menghubungkan Indonesia dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Kemudahan bagi Turis Asing

Bagi wisatawan mancanegara, QRIS antarnegara menghilangkan kebutuhan menukar uang tunai dalam jumlah besar atau membawa kartu kredit internasional. Transaksi dilakukan langsung dari aplikasi pembayaran yang sudah familiar, dengan nominal yang dikonversi secara otomatis. Bank Indonesia mencatat transaksi inbound oleh wisatawan asing mencapai 17,8 juta transaksi senilai Rp6,2 triliun hingga Agustus 2026, didominasi oleh pengunjung dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Pengalaman Pengguna Indonesia di Luar Negeri

Sebaliknya, masyarakat Indonesia yang bepergian ke negara mitra dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik mereka untuk memindai QR di merchant luar negeri. Transaksi outbound tercatat 5 juta transaksi dengan nilai Rp1,85 triliun hingga Agustus 2026. Kemudahan ini terutama dirasakan pelancong yang ingin bertransaksi di ritel, makanan dan minuman, transportasi, serta kebutuhan wisata tanpa harus mengeluarkan biaya konversi tunai berulang.

Tantangan Operasional dan Sosialisasi

Meski adopsi tumbuh cepat, tantangan di lapangan tetap ada. Tidak semua merchant di daerah wisata sekunder memahami cara menerima pembayaran QRIS dari aplikasi asing. Sosialisasi kepada pedagang, konsistensi pencatatan transaksi, dan penanganan kegagalan teknis menjadi pekerjaan rumah bersama antara bank, penyedia jasa pembayaran, dan asosiasi merchant. Di sisi konsumen, literasi mengenai nilai tukar dan batas transaksi juga perlu ditingkatkan agar pengalaman pembayaran lintas negara tetap aman dan nyaman.

Dari Wisata ke Ekonomi Harian

QRIS antarnegara mulai bergeser dari sekadar alat pembayaran wisata menjadi bagian dari ekonomi harian. Merchant ritel, warung makan, dan penyedia transportasi lokal merasakan dampak langsung berupa tambahan pembeli dari luar negeri. Dengan perluasan konektivitas ke Hong Kong dan Timor Leste, serta rencana penambahan negara mitra pada 2027, praktik pembayaran lintas negara semakin mendekati pengalaman pembayaran domestik: cepat, murah, dan dapat diandalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *