Salah satu tantangan terbesar UKM Indonesia dalam menembus pasar global adalah keterbatasan akses terhadap buyer mancanegara. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjawab tantangan ini dengan menginisiasi program UMKM Berani Inovasi Siap Adaptasi (BISA) Ekspor, sebuah ekosistem terintegrasi yang dirancang untuk memperluas akses UKM ke pasar internasional. Hasilnya signifikan. Pada kuartal I-2026, program UMKM BISA Ekspor mencatatkan total transaksi sebesar US23,6juta,gabungandaripotensitransaksimelaluiMoUsebesarUS 19,64 juta dan purchase order (PO) sebesar US$ 3,96 juta.
Business matching yang terarah. Kunci keberhasilan program ini terletak pada business matching yang terarah. Pada periode Januari–April 2026, program ini mencatat transaksi senilai US107,34juta,meliputiPOsekitarUS 11,72 juta dan potensi kesepakatan senilai US$ 95,62 juta. Program ini menyelenggarakan 278 kegiatan, termasuk 146 sesi pitching dan 132 pertemuan dengan buyer yang melibatkan 552 pelaku usaha. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan bahwa Indonesia memiliki perwakilan dagang dan Indonesian Trade Promotion Centers (ITPC) di 33 negara untuk membantu menghubungkan pelaku usaha domestik dengan buyer luar negeri. “Kami melakukan business matching secara rutin secara online, bahkan setiap hari,” ujarnya.
Sektor yang diminati buyer global. Data Kemendag melalui https://kemendag.go.id menunjukkan sektor-sektor yang paling diminati buyer global dalam program ini: olahan boga bahari dan perikanan, dekorasi rumah dan furnitur, kesehatan dan perawatan tubuh, rempah-rempah, makanan dan minuman, produk pertanian dan perkebunan, fesyen, kosmetik, kakao, kertas, produk kelapa, produk herbal, serta perlengkapan berbahan plastik. Keragaman sektor ini menunjukkan bahwa peluang ekspor terbuka bagi UKM dari berbagai latar belakang industri. Yang dibutuhkan adalah kesiapan produk, pemahaman standar internasional, dan kemauan untuk memanfaatkan program pemerintah.
Identifikasi UKM siap ekspor. Di sisi lain, Smesco sebagai lembaga layanan pemasaran Koperasi dan UKM mengidentifikasi 267 UKM siap memasuki pasar ekspor dari sekitar 100 ribu data UKM yang dimilikinya. Hingga 2026, sebanyak 1.083 UKM telah dihubungi secara langsung, dan 551 di antaranya teridentifikasi memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk untuk mendapatkan fasilitasi menuju pasar ekspor. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ekosistem pendukung ekspor UKM semakin matang. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan UKM yang telah masuk pasar ekspor dapat bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi, serta memastikan UKM mendapatkan pendampingan yang tepat. “Kemendag akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi, serta memastikan UKM mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu berkelanjutan di pasar ekspor,” ujarnya. Bagi UKM Indonesia, ekosistem ini adalah undangan untuk berani melangkah ke pasar global.
